Aku egois ya?
Aku ingin dicintai tanpa mencintai.
Aku ingin diinginkan tanpa menginginkan.
Aku ingin dimiliki tanpa sebuah ikatan.
Jujur, awalnya aku senang aku diinginkan oleh seseorang. Aku senang akan ada yang selalu memikirkan. Aku senang akan ada yang selalu menunggu. Aku senang, aku diharapkan oleh seseorang.
Egoisnya, dan maafkan aku, aku menyakitimu. Namun aku ingin kamu tetap di sisiku.
Boleh aku membela diri?
Kamu tidak berusaha. Aku tidak melihat usahamu. Aku tau kamu menginginkan, namun kau hanya diam.
Aku memang tidak bisa menjanjikan sebuah balasan, tapi bukankah waktu bisa merubah semuanya?
Mungkin aku bisa jatuh. Mungkin aku bisa luluh. Mungkin kamu bisa mendapatkanku.
Namun kamu memilih untuk berhenti sebelum berjuang.
Ya, aku mau tidak menyalahkan karena memang ini bukan salahmu, tapi aku juga butuh sesuatu untuk disalahkan.
Yang lebih sedih,
mungkin aku hanya pelarianmu. Aku hanya cadanganmu.
Aku bukan sakit hati, aku tersakiti.
Menyedihkan bukan, ketika tahu diriku hanya sebuah pilihan dari pilihan-pilihan lain.
Aku kira kamu baik.
Aku kira kamu tulus.
Aku kira aku sudah menyakiti orang yang salah.
Terlihat jahatkah, jika aku bilang aku sudah menyakiti orang yang tepat?
Turns out, kamu sama saja.
Untuk apa selama ini aku menyalahkan diriku sendiri?
-Maaf, aku memang egois.
But no matter what you do, how good of a person you are, you will always be a villain in someone else's story-
Komentar
Posting Komentar